MGMP PKN SMP ALHIKMAH
FORUM DISKUSI KRITIS TRANSFORMATIF

Kategori

 
 
 

Komentator

 

Pengunjung

8990
 

PENGGUNAAN PBL DALAM MATERI KORUPSI

BAB I

PENDAHULUAN 

 

A.    LATAR BELAKANG

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dinilai siswa kelas VIII E SMP Al Hikmah pelajaran membosankan, membuat jenuh, karena mata pelajaran ini terkesan hafalan dan teoritik, apalagi dalam penyampaianya kurang varisasi sehingga siswa kurang paham dan hasil belajar siswa menurun rata-rata dibawah kreteria Ketuntasan Minimal (KKM). Oleh karena itu diperlukan metode pembelajaran yang mampu mengubah stigma buruk yang dianggap siswa.

Dalam pembelajaran PKn terdapat berbagai metode yang biasa diterapkan seperti ceramah bervariasi, tugas, tanya jawab. Akan tetapi pengalaman selama ini menunjukkan bahwa metode-metode yang dipakai itu kurang dapat mencapai tujuan pembelajaran PKn secara maksimal. Hasil belajar siswa cenderung bersifat kognitif teoritis yang tidak berkembang.

Sedangkan mata pelajaran PKn bertujuan akhir untuk membentuk warga negara yang baik (good citizenship) yang mengerti dan memahami akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, norma-norma yang berlaku dimasyarakat, mampu berpikir kritis terhadap masalah-masalah yang berkembang. Singkatnya pembelajaran PKn dapat membentuk siswa yang berkarakter serta mampu berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dari masalah diatas, perlu dicari metode baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa, memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan kontekstual.

Oleh karena itu peneliti memilih metode Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi kasus korupsi pada mata pelajaran PKn kelas VIII E SMP Al Hikmah Surabaya.

 

 

 

 

 

 

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1.      Bagaimana penggunaan metode Problem Based Learning (PBL)  pada materi pemberantasan korupsi pada mata pelajaran PKn di kelas VIII E SMP Al Hikmah Surabaya?

2.      Apakah metode Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar materi upaya pemberantasan korupsi pada mata pelajaran PKn di kelas VIII E SMP Al Hikmah Surabaya?

 

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah ;

1.      Meningkatkan hasil belajar siswa dalam  materi  upaya pemberantasan korupsi pada mata pelajaran PKn kelas VIII E SMP Al Hikmah Surabaya.

2.      Memberikan gambaran metode pembelajaran yang tepat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dan menjadikan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

 

D. MANFAAT HASIL PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :

  1. Bagi guru hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk meningkatkan proses pembelajaran di kelas.
  2. Bagi peneliti yang lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan penelitian sejenisnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS TINDAKAN

 

 

A. HAKEKAT PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)

Pendidikan kewarganegaran salah satu mata pelajaran dianggap penting dalam pendidikan. Mata pelajaran ini diajarkan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Mengapa penting? karena pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab.

Ada beberapa hal  yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka Nation and Character Building” (membangun karakter bangsa), Pertama;PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi, psikologi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai dan perilaku demokrasi warganegara.

Kedua;PKn mengembangkan daya nalar(state of mind) bagi para peserta didik. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi.

Ketiga; PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan penalaran. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari lingkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand of experience).

Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn, pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy), tetapi melalui metode pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kendali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis kelas.

 

B. PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Problem Based Learning (PBL) adalah metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan (Duch, 1995).  Finkle dan Torp (1995) menyatakan bahwa PBL merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang mengembangkan secara simultan strategi pemecahan masalah dan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan para peserta didik dalam peran aktif sebagai pemecah permasalahan sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik.  Dua definisi di atas mengandung arti bahwa PBL merupakan setiap suasana pembelajaran yang diarahkan untuk memecahkan permasalahan sehari-hari.

Aplikasi pembelajaran dengan metode Problem Based Learning dimulai dengan siswa terlebih dahulu mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan yang muncul, serta mendiskusikan permasalahan dan mencari pemecahan masalah dari permasalahan tersebut. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah yang ada serta mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda diantara mereka.

Pembelajaran metode Problem Based Learning berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, menemukan dan mendiskusikan masalah serta mencari pemecahan masalah, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Siswa terbiasa memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergumul dengan ide-ide.

Dalam pembelajaran metode Problem Based Learning tugas guru mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, dan memfasilitasi belajar. Anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.

 

C.     PENGARUH HASIL BELAJAR PKN MELALUI METODE PROBLEM BASED LEARNING

Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman dan penggunaan pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan manusia yang berkualitas, bertanggung jawab bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajara PKn berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan (agama dan golongan) serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. Hasil belajar didapat baik dari hasil tes tertulis (soal uraian maupun pilihan ganda), unjuk kerja (performance), penugasan (Proyek), hasil kerja (produk), portofolio, sikap serta penilaian diri.

Untuk meningkatkan hasil belajar PKn, dalam pembelajarannya harus menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Diperlukan metode pembelajaran interaktif dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar, guru menekankan keseimbangan antara proses dan hasil. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar yang optimal. Agar hasil belajar PKn meningkat diperlukan situasi, cara dan metode pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam proses belajar mengajar. Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara totalitas adalah pembelajaran dengan Problem Based Learning.

Dari pembahasan diatas diharapkan bahwa pembelajaran dengan metode Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa dalam belajar efektif dan kreatif, dimana siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya, menemukan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui proses bertanya, kerja kelompok, belajar dari metode yang sebenarnya, bisa merefleksikan apa yang diperolehnya antara harapan dengan kenyataan sehingga peningkatan hasil belajar yang didapat bukan hanya sekedar hasil menghafal materi belaka, tetapi lebih pada kegiatan nyata (pemecahan kasus-kasus) yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran (diskusi kelompok dan diskusi kelas).

 

D. HIPOTESIS TINDAKAN

Dengan demikian dapat disimpulkan sementara bahwa:

  1. Pembelajaran dengan metode Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar materi pemberantasan korupsi pada mata pelajaran PKn siswa kelas VIII E SMP Al Hikmah Surabaya.
  2. Pendekatan metode Problem Based Learning dapat menjadikan siswa lebih aktif dan mampu memecah masalah dalam proses belajar mengajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.    Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan pengembangan metode dan strategi pembelajaran. Metode dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (Class Action Research) yaitu suatu penelitian yang dikembangkan bersama dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran.

Alat pengumpul data yang dipakai dalam penelitian ini antara lain : catatan guru, catatan siswa, wawancara, angket dan berbagai dokumen yang terkait dengan siswa.

Prosedur penelitian terdiri dari  4 tahap, yakni  perencanaan, melakukan tindakan, observasi,dan evaluasi. Refleksi dalam tahap siklus dan akan berulang kembali pada siklus-siklus berikutnya.

Aspek yang diamati dalam setiap siklusnya adalah kegiatan atau aktifitas siswa saat mata pelajaran PKn pada materi pemberantasan korupsi dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL). Dengan pendekatan itu bisa dilihat perubahan tingkah laku siswa,  mengetahui tingkat kemajuan belajarnya yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar dengan alat pengumpul data yang sudah disebutkan diatas.

 

B.     Setting Penelitian

1.      Tempat

Penelitian ini dilakukan di kelas VIII E SMP Al Hikmah Surabaya, dengan jumlah 29 siswa. Penelitian dilaksanakan pada saat mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berlangsung dengan pokok bahasan “Pemberantasan korupsi di Indonesia”.

2.      Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan selama 4 (empat) bulan dimulai pada bulan Februari – Mei 2012

C.     Instrumen Pengumpulan data

Data yang diambil adalah data kuantitatif dari hasil tes, nilai tugas, serta data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa, partisipasi dan kerjasama dalam diskusi, kemampuan atau keberanian siswa dalam melaporkan hasil diskusi kelompok.

Instrumen yang dipakai berbentuk soal tes, observasi, catatan lapangan. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator keberhasilan yang sudah dirumuskan.

D.    Teknik analisis data

Teknik analisis data kuantitatif menggunakan rerata, sedangkan data secara kualitatif menggunakan deskritif analisis.

E.     RencanaTindakan

Siklus I

a. Perencanaan

  • Identifikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah.
  • Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.
  • Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
  • Memilih bahan pelajaran yang sesuai
  • Menentukan scenario pembelajaran dengan metode pembelajaran berbasis masalah(PBL).
  • Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat Bantu yang dibutuhkan.
  • Menyusun lembar kerjasiswa (LKS) dalam bentuk studi kasus
  • Mengembangkan format evaluasi
  • Mengembangkan format observasi pembelajaran.

b. Tindakan

  • Menerapkan tindakan yang mengacu pada scenario pembelajaran.
  • Siswa yang diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
  • Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang konsep materi yang terdapat pada buku sumber.
  • Siswa berdiskusi membahas masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan oleh guru.
  • Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi.
  • Siswa mengerjakan lembar kerja siswa .

c. Pengamatan

  • Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan yaitu dengan instrumen yang telah dibuat, catatan anekdot untuk mengumpulkan data.
  • Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa (LKS).

d. Refleksi

  • Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
  • Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang scenario pembelajaran dan lembar kerja siswa.
  • Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.

Jika siklus pertama ini belum berhasil maka dilaksanakan siklus berikutnya.      

F.   Kriteria Keberhasilan Tindakan

   Kriteria keberhasilan penelitian ini bisa dilihat dari sisi proses dan hasil. Sisi proses yaitu dilihat dari siswa memecahkan masalah melalui Problem Based Learning  dengan  diskusi kelompok, siswa dilatih berani mengeluarkan pendapat dan berpikir kritis dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Selain itu belajar PKn dirasa lebih menyenangkan, meningkatkan motivasi siswa, kerjasama dan partisipasi siswa. Hal ini dapat diketahui melalui hasil pengamatan yang terekam dalam catatan colabulator (pendamping) yang telah dibuat dan melalui data angket tentang sikap siswa terhadap pelajaran PKn.

Sedangkan hasil  belajar diukur dari hasil post test, apabila hasil lebih besar atau sama dengan 75% (Panduan implementasi standar penilaian pada KTSP di Sekolah), siswa dianggap telah berhasil dalam pemecahan masalah materi pemberantasan korupsi di Indonesia melalui metode Problem Based Learning, maka tindakan tersebut diasumsikan sudah berhasil.

Kriteria hasil penelitian tentang penguasaan materi pemberantasan korupsi di Indonesia dan aktivitas siswa ditetapkan sebagai berikut :

Table 1. Kriteria nilai penguasaan materi pemberantasan korupsi

No

Nilai

Kriteria

1

0 – 74

Tidak tuntas

2

 75-100

Tuntas

 

 

 

 

 

Table 2. Kriteria aktivitas siswa yang relevan

No

NIlai

Kriteria

1

<60

Kurang

2

61– 74

Sedang

3

75– 89

Baik

4

90 – 100

Baik Sekali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Hasil Penelitian dan Pembahasan

 

A. Hasil  Penelitian

Pembelajaran PKn dengan metode Problem Based Learning (PBL) di kelas VIII E  SMP Al Hikmah Surabaya ini dilakukan dalam satu siklus. Data yang diambil adalah aktivitas pembelajaran dan nilai evaluasi pada akhir siklus.

Untuk mengetahui seberapa jauh penggunaan PBL bisa efektif atau tidak, maka peneliti menggunakan instrumen yang telah dibuat. Hasil observasi aktivitas siswa dapat dilihat pada table-tabel berikut ini :

Table 3. Data aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran.

No

Indikator

Ketercapaian

Ya

Tidak

1

Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat

81,48 %

18,52%

2

Motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran

85,49%

14,81%

3

Interaksi siswa dalam mengikuti diskusi kelompok

74,07%

25,93%

4

Hubungan siswa dengan guru selama kegiatan pembelajaran

92,59%

7,41%

5

Partisipasi siswa dalam pembelajaran  (memperhatikan), ikut melakukan kegiatan kelompok, selalu mengikuti petunjuk guru).

92,59%

7,41%

 

Rata –Rata

  85,24%


 

14,82%

 

Berdasarkan tabel 3 diatas, terlihat bahwa aktivitas siswa yang relevan dengan kegiatan pembelajaran dengan metode PBL sebesar 85,24%.

 

Selanjutnya  data aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran PKn terlihat pada table 4.

 

 

Table 4. Data Aktivitas Siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran.

No

Indikator

Ketercapaian

Ya

Tidak

1

Tidak memperhatikan penjelasan guru

18,52%

81,48%

2

Mengobrol dengan teman

7,41%

92,59%

3

Mengerjakan tugas lain

11,11%

88,89%

 

Rata – rata

12,35%

87,65%

 

Berdasarkan tabel 4,  diatas terlihat bahwa aktivitas siswa yang kurang relevan dengan kegiatan pembelajaran PKn hanya sebesar 12,35%, sedangkan yang lain memperhatikan penjelasan guru (antusias dalam pembelajaran) berdasarkan data sebesar 87,65%.

Dari data angket yang telah disebar tentang tanggapan siswa terhadap penggunaan metode PBL dalam pemebelajaran PKn terdapat 19 siswa (70,37%) mengatakan senang dengan menggunakan PBL terhadap pembelajaran PKn, dan 7 siswa (25,93%) mengatakan biasa artinya metode ini dianggap sudah diterapkan guru lainnya, serta 1 siswa (3,71%) yang mengatakan tidak senang karena materi belum bisa dipahami.

Ada korelasi aktivitas siswa dalam pembelajaran dan tingkat kesenangan siswa dalam pelajaran PKn dengan metode PBL dengan pemahaman materi. Hal ini bisa dilihat dari data pemahaman siswa tentang menyikapi masalah korupsi dan ketuntasan belajar dapat dilihat hasil pres tes dan post tes pada tabel sebagai berikut;

Tabel 5. Data Pemahaman Siswa tentang Masalah Korupsi.

No

Aspek yang diamati

Ketercapaian

1

Siswa yang paham tentang masalah korupsi

92,59%

2

Siswa yang tidak paham tentang masalah korupsi

7,41%

3

Nilai rata-rata

84,63

 

Berdasarkan tabel 5 diatas, nilai rata-rata pemahaman siswa tentang masalah korupsi bisa dilihat dari prosentase siswa yang mencapai 92,59% dan nilai rata-rata 84,63.

 

 

 

 

Tabel 6. Data Siswa Ketuntasan Belajar Siswa.

No

Aspek yang diamati

Ketercapaian

PRE-TEST

POST-TEST

1

Siswa yang telah tuntas

7,41%

92,59%

2

Siswa yang belum tuntas

92,59%

7,41%

3

Nilai rata-rata

57

88

 

Berdasarkan tabel 6 diatas, nilai rata-rata pemahaman siswa tentang masalah korupsi mengalami peningkatan dari pre tes dan post test bisa dilihat dari prosentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar 92,59%.

 

B. Pembahasan

          Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 4 (empat)  kali pertemuan. Dalam prosesnya siswa dibagi menjadi lima kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 5 - 6  orang. Setiap anggota kelompok  diberi lembaran kasus dalam bentuk artikel (studi kasus korupsi) yang telah disediakan oleh guru. Tiap-tiap kelompok melakukan pembahasan  dengan mengacu kepada buku pegangan dan Undang-Undang no. 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi serta Undang Undang Dasar 1945 (yang telah diamandemen).

Hasil pengamatan observer menunjukan pada pembahasan studi kasus korupsi dengan tema (Kontraktor yang nakal, Dana Bantuan Bencana, Sang Hakim yang berkuasa di Pengadilan, Jalan raya dan tata tertib lalu lintas dan titipan ke kepala diknas), terlihat para siswa sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan dan berani memberikan argumentasi.

Berdasarkan tabel 3 diatas terlihat keberanian siswa bertanya dan mengemukakan pendapat, rerata perolehan skor 81,84% yang berani berpendapat, dan 18,52% yang kurang berani menyampaikan pendapat. Begitupun dalam indikator motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran rata-rata 85,49 % dan siswa yang kurang bergairah dalam pembelajaran sebesar 14,81%.

Dalam indikator interaksi siswa selama mengikuti diskusi kelompok sebesar 74,07% dan siswa yang tidak mengikuti aktivitas diskusi kelompok sebesar 25,93%. Dalam indikator hubungan siswa dengan guru selama kegiatan pembelajaran sebesar 92,59% mengganggap guru bukan sebagai subyek pembelajaran melainkan sebagai fasilitator sebesar 7,41%. Dalam indikator partisipasi siswa dalam pembelajaraan terlihat pada data sebesar 92,59%, sedangkan siswa yang kurang berpartisipasi dalam pembelajaran sebesar 7,41%.

Melalui metode PBL ini terlihat hubungan siswa dengan guru sangat signifikan karena guru tidak dianggap sosok yang dominan tetapi sebagai fasilitator dan mitra untuk berbagi pengalaman sesuai dengan konsep pembelajaran kooperatif. Guru hanya membantu siswa jika menemukan kesulitan dalam mempelajari dan menyelesaikan masalah. Siswa dapat mengeksplorasi dan mengkaji setiap persoalan dalam hal ini kasus korupsi guna melatih nalar kritis siswa serta membuat anak aktif dan kreatif dalam pembelajaran.

Ada korelasi aktivitas siswa dalam pembelajaran dan tingkat kesenangan siswa dalam pelajaran PKn dengan metode PBL dengan pemahaman materi. Hal ini bisa dilihat dari data pemahaman siswa tentang menyikapi masalah korupsi dari prosentase siswa yang mencapai 92,59% dan nilai rata-rata 84,63 dan ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel 6.

 Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas diatas prosentasi ketuntasan belajar diatas atau sama kreteria ketuntasan minimal (KKM) yakni tujuh puluh lima, maka dapat disimpulkan bahwa melalui metode Problem Based Learning dapat meningkatkan pemahaman siswa memecahkan masalah kasus korupsi dan hasil belajar dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) pada siswa SMP Al Hikmah Surabaya. Dan melihat hasil siklus pertama sudah diatas kreteria ketuntasan minimal (KKM) maka penilitian ini cukup dilakukan hanya satu siklus saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa diatas, ada beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu:

  1. Skor rata- rata aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran PKn sebesar 85,24%.
  2. Skor rata- rata aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran PKn hanya sebesar 12,35%.

3.    Skor rerata pemahaman siswa tentang masalah korupsi sebesar 92,59% dan ketuntasan belajar sebesar 92,59%.

Dari temuan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran PKn pada materi pemberantasan Korupsi Siswa kelas VIII E SMP Al Hikmah dan menjadikan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

 

B. Saran

Berdasarkan temuan-temuan diatas, dapat diasarankan agar:

1.     Pembelajaran pengetahuan IPS pada umunya dan Pendidikan Kewarganegaraan pada khususnya dapat menggunakan model Problem Based Learning sebagai salah satu alternatif dalam kegiatan belajar mengajar.

2.     Melalui pembelajaran model Problem Based Learning, siswa terlihat berani menyampaikan pendapat dan mampu menganalisa setiap persoalan dengan kelompoknya masing-masing. Dengan demikian seorang guru dapat lebih efektif dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Bina Aksara

Agus Suprijono, PAIKEM; Teori dan Aplikasinya, 2007, Galang Press, Yogyakarta

Budimansyah, Dasim, 2002, Model Pembelajaran dan Penelian Portofolio, Bandung, PT. Genesindo

Depdiknas, 2006, Standar Kompetensi Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan tahun 2006, Jakarta, Depdiknas

Kaelan, MS, 2004, Pendidikan Pancasila, Jogjakarta, Edisi reformasi, penerbit Paradigma

Lemhanas, 2001, Pendidikan Kewarganegaraan., Jakarta, Gramedia Pustaka Umum

Malian, Sobirin dan Marzuki Suparman, 2003, Pendidikan Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia, Jogjakarta, UII Press

Republik Indonesia, Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Tilaar, HAR, et, al, Dimensi-Dimensi Hak Asasi Manusia dalam Kurikulum Persekolahan Indonesia, Bandung, PT. Alumni

 http;//lubisgrafura.wordpress.com/ pembelajaran-berbasis-masalah.

http;//agussambeng.blogspot.com/empat pilar belajar.

 

 

 

 

 

Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]
 

Pengumuman PPMB

 

Artikel Popular

  • Laporan PTK
    Umum - 07-07-2012 10:37:51  (2)
 

Komentar Terbaru

 

Artikel Terbaru

 
Home | Profil | Pengumuman

Copyright © 2011 Unair | Designed by Free CSS Templates